Jumat, 22 November 2019

1 Menit Membangun Kebiasaan Baik


Pernah dengar istilah Kaizen? Kaizen terdiri dari dua suku kata yaitu kai yang berarti perubahan dan zen yang berarti baik. Kata kaizen berasal dari Jepang yang artinya perubahan untuk menjadi lebih baik. Di Jepang sendiri kaizen adalah sebuah filosofi dalam menjalani hidup untuk senantiasa melakukan pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus terutama terhadap diri sendiri untuk membangun kebiasaan-kebiasaan yang baik.

Prinsip kaizen berpengaruh cukup besar dalam membangun kedisiplinan. Itulah kenapa orang-orang di Jepang terkenal dengan kedisiplinannya. Membangun kedisiplinan dan kebiasaan-kebiasaan yang baik tentu tidak dilakukan dalam waktu semalam atau seminggu. Perlu adanya konsistensi untuk melakukan hal-hal baik agar bisa menjadi sebuah kebiasaan.

Saya menerapkan prinsip ini pada diri Saya sendiri misalnya dalam hal berolahraga. Dulu Saya adalah orang yang malas berolahraga karena Saya merasa bukan orang yang memiliki fisik yang kuat. Kesalahan Saya adalah pemikiran bahwa olahraga hanya untuk mereka yang memiliki fisik kuat. Padahal sebaliknya, dengan rutin berolahraga fisik bisa menjadi lebih bugar dan kuat.

Saya mulai membangun kebiasaan untuk rutin berolahraga dengan menggunakan prinsip kaizen. Dimulai dari olahraga ringan seperti lari, push up, dan sit up. Saya melakukan olahraga tersebut dimulai dengan jumlah kecil, namun rutin setiap hari. Untuk lari misalnya, Saya memulainya dengan lari pagi sejauh 500 meter, hanya sekitar 5 menit setiap paginya, dan ditingkatkan secara bertahap hingga Saya kuat berlari sejauh 5 kilometer selama 30 menit. Begitu pun dengan push up dan sit up, Saya memulainya dengan hanya 2 kali setiap pagi, siang, dan malam, hingga akhirnya kuat melakukan 15 kali push up dan sit up setiap pagi, siang, dan malam.

Cara membangun kebiasaan dengan prinsip kaizen ini terus Saya gunakan untuk kegiatan positif lainnya. Setiap Saya merasa ingin berkembang menjadi lebih baik, Saya memulainya dengan hanya mengalokasikan waktu 1 menit setiap hari. Pelan tapi pasti hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan bagi Saya. Hingga akhirnya Saya mengerti, bahwa untuk selalu disiplin dalam membangun kualitas diri tidaklah sulit asal kita bisa memulainya, hanya dengan 1 menit, untuk membangun kebiasaan baik.

Kamis, 21 November 2019

Menjemput Rezeki yang Diusahakan


Saya sering mendengar orang yang mengeluh tentang rezekinya. Orang-orang yang sering mengatakan bahwa rezeki sudah ada yang mengatur. Sehingga mereka lebih senang pasrah ketika mengalami kesulitan keuangan dan akan mengucapkan "mungkin memang nasib Saya yang seperti ini". Menurut Saya, ini adalah kepasrahan yang tidak tepat.

Manusia memang sudah dijamin rezekinya oleh Allah yang Maha Pemberi. Rezeki yang sudah dijamin itu akan sampai kepada kita bagaimana pun caranya. Jumlahnya akan sesuai dengan ketetapan dari sang pencipta, tidak kurang dan tidak lebih. Ini adalah rezeki yang bersifat mutlak. Tidak ada satu makhluk pun di dunia ini yang tidak akan mendapatkan rezeki dari Allah. Rezeki dari Allah itu sangat luas, sangat banyak, karena Allah Maha Kaya.

Lantas kenapa rezeki setiap orang berbeda? Kenapa ada yang miskin dan ada yang kaya? Usaha dari masing-masing orang dalam menjemput rezeki pasti berbeda. Selain ada rezeki yang dijamin, ada juga rezeki yang diusahakan. Sederhananya, untuk menjemput rezeki karena berusaha maka usahanya pun harus besar dan tiada henti, sebaliknya kalo malas berusaha maka bisa dipastikan rezekinya akan susah turun. 

Tapi sayangnya kadang perjalanan kita dalam menjemput rezeki yang diusahakan ini tidak sesederhana itu. Ada yang usahanya besar tapi masih sering gagal, hidupnya masih sulit. Sebaliknya ada yang terkesan minim kerja keras, tapi ternyata rezeki mengalir deras tanpa henti. Kira-kira apa yang menyebabkan hal tersebut?

Usaha ternyata tidak sebatas usaha fisik seperti kerja dari pagi sampai larut malam. Ada hal-hal yang jauh dari pada itu, dan berpengaruh terhadap kemudahan menjemput rezeki. Usaha juga mencakup doa dan pikiran. Usaha dalam doa berarti usaha dalam meminta, tentunya hanya meminta kepada Allah, bukan bos atau atasan. Karena kita sadar bahwa hanya Allah yang sanggup memberikan kemudahan kepada kita. Meminta kepada Allah bukanlah suatu hal yang hina, justru hal tersebut adalah sikap rendah hati yang harus kita tunjukkan sebagai makhluk yang bergantung pada sang penciptanya. Besarnya usaha kita dalam meminta melalui doa akan membuat hubungan kita dengan sang Pemberi Rezeki menjadi semakin dekat.

Berdoa harus selalu diikuti dengan pikiran yang positif dan selalu berbaik sangka kepada Allah. Tidak setiap doa akan terkabul sesaat setelah kita meminta. Ada proses yang harus dijalani, Allah mau melihat usaha dan kesabaran kita. Seandainya usaha secara fisik dan doa belum juga mendatangkan rezeki, kita harus selalu berbaik sangka, mungkin Allah sedang menyiapkan yang lebih baik untuk kita dan menunggu hingga kita pantas mendapatkannya.

Berpasrah diri menerima keadaan sebelum berusaha adalah hal yang pantang dilakukan. Karena faktanya banyak orang-orang kaya yang berasal dari keluarga yang kurang mampu, tapi pada akhirnya bisa sukses dalam menjemput rezeki karena mereka mau berusaha. Usaha tersebut tentunya diimbangi dengan doa dan selalu disertai pikiran yang positif sehingga mereka tidak pernah menyerah saat diuji dengan kegagalan.

Rabu, 20 November 2019

Belajar Memaafkan



Memaafkan itu sejatinya adalah hal yang sulit, sama halnya seperti meminta maaf. Memaafkan bisa jadi lebih sulit, karena kita harus mampu menyembuhkan diri dari rasa sakit yang mungkin dialami.

Adakah cara untuk menjadi orang yang mudah memaafkan?

Terkadang kita merasa sakit hati atas sikap dan perilaku orang lain terhadap kita. sikap menyakitkan itu bisa bermacam-macam bentuknya. Bisa berupa sindiran, hinaan, dimarahi, perilaku kasar, cuek atau mungkin ditinggal saat lagi sayang-sayangnya.

Tentu bukan hal yang mudah untuk memaafkan hal-hal yang menyakitkan tersebut. Bahkan mungkin bisa menimbulkan rasa dendam jika rasa sakitnya amat besar.

Tapi percayalah bahwa rasa sakit itu bisa hilang, dan menyimpan dendam hanya akan membuat kita semakin merasa sakit. Atas dasar tersebut, memaafkan adalah pilihan yang jauh lebih bijak dan menyehatkan, setidaknya untuk diri kita sendiri. 

Agar bisa memaafkan dengan mudah, maka harus didahului dengan kemampuan untuk bisa menerima. 

Apa yang harus diterima? yaitu segala rasa sakit yang disebabkan oleh orang lain terhadap diri kita.

Rasa sakit itu sebenarnya muncul atas izin dan persepsi kita sendiri. Kenapa begitu? Intinya persepsi kitalah yang seringkali menjadikan kita sebagai objek yang tersakiti. kita sering merasa menjadi korban atas tindakan tidak menyenangkan yang dilakukan orang lain. Padahal belum tentu orang lain itu sengaja.

Karena tidak semua rasa sakit itu disebabkan oleh perbuatan yang disengaja. Bahkan ada pula rasa sakit yang muncul tanpa adanya tindakan yang menyebabkan rasa sakit tersebut. Misal kita sering merasa tersinggung oleh perkataan orang lain yang belum tentu maksudnya adalah untuk menyinggung kita.

Jadi, jika kita bisa dengan mudah menerima, kita bisa memaafkan dengan lebih mudah. Hal ini tentunya akan membuat diri kita menjadi lebih tenang dan tidak terlalu ambil pusing dengan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain terhadap diri kita.