Minggu, 06 Oktober 2019

Tingkah Laku Responding vs Initiating


Ketika sedang bekerja dan dihadapkan pada suatu diskusi pasti kalian akan menemukan dua macam tipe orang. Pertama, mereka yang dengan seksama mendengarkan topik pembicaraan yang sedang didiskusikan. Dan yang kedua adalah mereka yang mampu merespon dengan cepat selama proses diskusi dengan secara aktif memberikan pendapat dan opini. Dua tipe cara berkomunikasi tersebut dideskripsikan sebagai responding dan initiating.

Tulisan Saya pada postingan kali ini bersumber dari sebuah buku yang berjudul How to Get On With Anyone yang ditulis oleh Catherine Stothart. Jika kalian tertarik untuk memperdalam topik ini lebih lanjut maka pembahasan tentang materi ini ada di Bab ke-2 buku tersebut.

Secara umum, perilaku responding dan initiating ini sebenarnya sama dengan perilaku introvert (energi yang fokus pada pikiran dan perasaan dalam diri) dan ekstrovert (energi yang fokus pada dunia luar). Dimana kita sering membedakan dengan mudah kedua tipe ini sebagai pendiam vs ekpresif. Tapi dalam hal yang lebih spesifik misal dalam berkomunikasi, responding dan initiating merupakan kecenderungan seseorang yang akan ia tampilkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Dimana perilaku responding berarti seseorang akan lebih cenderung untuk menanggapi sedangkan intiating berarti lebih cenderung memulai atau mengarahkan jalannya diskusi.

Ciri-ciri bagi orang yang lebih dominan sebagai tipe responding yaitu: 
  • mereka pendengar yang baik
  • memiliki pembawaan yang tenang
  • bisa meredakan situasi yang memanas
  • memikirkan suatu hal secara mendalam
  • hanya mengeluarkan pendapat jika hal tersebut dirasa penting
  • terkesan lambat dalam mengambil tindakan
  • terlihat seperti enggan untuk memberikan masukan
  • tidak begitu aktif dalam suatu pembicaraan
  • lebih suka menghindari konflik
Sedangkan untuk orang yang lebih dominan sebagai tipe initiating memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  • mereka suka memulai sesuatu atau menginisiasi topik pembicaraan
  • tidak ragu dalam mengungkapkan apa yang dipikirkan
  • mampu memberikan respon dengan cepat
  • terlihat bersemangat dan memiliki langkah yang cepat dalam pengambilan keputusan
  • terkesan tergesa-gesa
  • mendominasi suatu percakapan
  • mungkin tidak terlalu mendengar pendapat orang lain
  • justru terlihat bersemangat dengan adanya konflik

Pada kenyataannya, orang kebanyakan akan memperlihatkan campuran dari kedua perilaku responding dan initiating seperti halnya kebanyakan orang memperlihatkan perilaku yang ambivert. Meskipun demikian, kadar seseorang dalam bersikap responding-initiating bisa bermacam-macam. Tidak ada seorang pun yang akan 100% berperilaku responding atau initiating. Yang paling penting adalah bagaimana caranya untuk mengetahui kecenderungan yang ada dalam diri kita dan lawan bicara sehingga kita bisa mengatur energi dan menebak respon orang lain saat sedang berinteraksi.

Contoh sederhana, Saya sendiri merasa lebih sering bersikap responding secara alami. Maka ketika Saya dihadapkan pada lingkungan yang baru, dimana Saya harus bertemu orang baru dan menjalin pertemanan dengan mereka, maka Saya membutuhkan energi dan usaha lebih untuk bisa bersikap initiating untuk lebih dulu memulai pembicaraan, bertanya, dan menanggapi jawaban agar mereka merasa Saya memiliki ketertarikan untuk menjalin pertemanan. Artinya bukan berarti Saya tidak bisa bersikap initiating karena kecenderungan Saya adalah responding, tapi Saya hanya membutuhkan energi lebih banyak dan keluar dari zona nyaman untuk bisa bersikap secara initiating yang sejatinya bukan sikap alamiah yang Saya miliki.

Jumat, 04 Oktober 2019

Pengalaman 2 Tahun Kerja di Tambang



Per bulan Oktober 2019 ini, lebih tepatnya sudah 2 tahun 6 bulan penulis bekerja di tambang tembaga. Saya lulus kuliah di bulan Oktober 2016 dan menunggu selama 5 bulan sampai akhirnya diterima bekerja di sebuah perusahaan pertambangan dan pengolahan tembaga yang memiliki site di pulau Wetar, Maluku. Saat itu semua tahap proses interview dilakukan melalui telepon hingga akhirnya kurang dari sebulan Saya sudah mendapatkan offering letter untuk bekerja di perusahaan ini.

Hari pertama berangkat ke site yaitu tanggal 4 April 2017. Perjalanan harus ditempuh menggunakan pesawat terbang dari Jakarta menuju Kupang. Pesawat yang saya tumpangi take off sekitar jam 7 pagi dari bandara Soekarno-Hatta, transit di Denpasar, kemudian landing di bandara El Tari Kupang pukul 12.30 waktu setempat. Di Kupang sudah ada mobil jemputan yang mengantarkan Saya ke hotel Neo untuk beristirahat sambil menunggu perjalanan selanjutnya menggunakan kapal di sore hari. Perjalanan menggunakan kapal menuju pulau Wetar ditempuh selama 18 jam sehingga saya harus bermalam di kapal dan baru tiba di pulau Wetar sekitar pukul 11 siang keesokan harinya.

Waktu itu pada trip pertama Saya, tidak pernah terpikirkan bahwa perjalanan menuju tempat bekerja akan sejauh ini. Saya hanya mendapat sekilas gambaran tentang perjalanan ke pulau Wetar saat interview. Saya pikir perjalanan tersebut akan biasa-biasa saja karena Saya pun pernah kerja praktek di tambang nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan dan harus menggunakan bus selama 13 jam perjalanan dari Makasar ke Sorowako. Setelah merasakan langsung perjalanan tersebut ternyata cukup melelahkan juga hehe. Bagian yang bikin lelah adalah perjalanan 18 jam di kapal dengan gelombang yang lumayan menggoyang badan kapal sehingga Saya merasa mual sepanjang perjalanan meskipun sudah minum antimo dua tablet sekaligus.

Hari-hari Saya selama sebulan di trip pertama dipenuhi dengan pertanyaan pada diri sendiri apakah Saya bisa bertahan cukup lama paling tidak selama setahun bekerja di perusahaan ini? Bukan karena tempatnya yang berada di daerah terpencil yang tidak ada Alfamart atau Indomaret. Bukan karena tidak ada mall beserta bioskopnya untuk menonton film keluaran terbaru. Bukan karena Saya harus jauh dari keluarga dan pacar, walaupun ini termasuk hal yang bikin Saya sering homesick juga. Saya hanya sering khawatir dengan perjalanan laut selama 18 jam yang membuat Saya tidak nyaman sepanjang perjalanan. Terlebih lagi jika sedang musim ombak besar. Karena sistem bekerja disini adalah roster 4-2 (4 minggu kerja di site setelah itu 2 minggu libur di rumah) sehingga setiap 3 bulan Saya harus merasakan 4 kali perjalanan laut ini. Dan ternyata sampai saat ini sudah 2 tahun 6 bulan berjalan dan Saya masih bertahan dan setia di tempat ini hehe...

Lalu yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah kenapa Saya bisa bertahan bekerja di tambang remote area yang perjalanannya saja sejauh itu? Sebenarnya sudah berkali-kali Saya ingin resign dari sini, jujur. Masalahnya adalah setiap kali ada proses seleksi, test, atau interview selalu saja ketika Saya sedang berada di tengah-tengah roster. Misal saya harus pulang hanya untuk 2-3 hari pun cukup sulit karena faktor perjalanan yang jauh dan tidak bisa pulang dadakan kecuali ada hal-hal yang darurat seperti meninggalnya anggota keluarga. Hal lainnya adalah di area pabrik hp tidak mendapat sinyal sama sekali sehingga dari jam 6 pagi hingga 6 sore Saya tidak bisa dihubungi atau menghilang dari eksistensi dunia luar. Akhirnya Saya tidak begitu getol lagi untuk mencari perusahaan baru dan berusaha menikmati saja hari-hari Saya di tambang ini sambil belajar banyak hal dan memberikan apa yang bisa Saya berikan.

Sistem roster 4-2 membuat Saya menjalani hidup yang lebih banyak di site ketimbang di rumah, artinya selama setahun kurang lebih 8 bulan Saya lalui di site dan hanya 4 bulan di peradaban. Semua ini tentu ada plus minusnya. Hidup di site enaknya adalah tidak perlu merasakan kemacetan setiap kali pulang pergi kerja seperti kebanyakan teman-teman yang kerja di Jakarta, gaji bulanan Saya utuh karena untuk makan, tempat tinggal, laundry, tiket pesawat pulang-pergi saat fieldbreak semua sudah dijamin perusahaan. Minusnya ya tentu kehidupan yang itu-itu aja dengan orang-orang yang itu-itu lagi, sinyal internet tidak sebagus di Jakarta dan belum ada 4G, jadi bye youtube. Selain itu seringkali Saya tidak bisa hadir di momen-momen terpenting di kehidupan orang-orang terdekat.

Dua setengah tahun yang Saya lalui bukan tanpa kejenuhan sama sekali karena Saya berkali-kali merasa ingin pindah, dan merasa berat hati ketika harus berangkat kembali ke site setelah dua minggu berada di kehidupan normal. Mengatasi hal ini Saya selalu mencoba mencari hal-hal baru selama bekerja. Selain itu perubahan kondisi di perusahaan juga membuat Saya akhirnya penasaran dan ingin bertahan untuk mengetahui kelangsungan hidup tambang ini, mulai dari naik jabatan, pindah bagian proses yang harus Saya urus, perusahaan diakuisisi oleh grup perusahaan lain, rute perjalanan diubah sehingga perjalanan dengan kapal menjadi 8 jam saja, pergantian manajer departemen yang hingga saat ini sudah 4 kali terjadi, melihat produksi naik turun, menghadapi masalah yang berbeda-beda, dikirim untuk pertemuan dengan ESDM di Denpasar, diberi kesempatan untuk sertifikasi POP, dan banyak hal lainnya yang membuat Saya selalu merasa "sepertinya gue masih disini 3 bulan kedepan deh, masih penasaran ini... masih penasaran itu..."

Hingga saat ini kalau ada pertanyaan apakah Saya masih ingin pindah dari perusahaan ini? jawabannya tentu Saya ingin pindah. Tapi kapan? itu yang Saya belum bisa jawab. Entah nanti kalau Saya menikah karena Saya tidak akan tahan hanya menjalani 4 bulan bersama istri Saya nanti dari 12 bulan selama setahun karena harus ke site. Mungkin ketika sudah lebih dari 3 tahun bekerja Saya mulai merasa bosan lagi, atau mungkin juga kalau ada kesempatan yang tepat Saya akan pindah. Tapi sepertinya belum akan terjadi dalam waktu dekat. 

Yah begitu saja kira-kira pengalaman Saya bekerja selama lebih dari 2 tahun di perusahaan tambang di Maluku, terimakasih sudah membaca tulisan yang isinya curhat ini sampai habis ya hehe.. semoga ada hal baik yang bisa dipetik. See you on the next post.

Kamis, 03 Oktober 2019

Kecerdasan Emosional: Apa Pentingnya?


Selamat datang di blog milik Senna Ardiansyah bagi kalian yang baru pertama kali mengunjungi blog ini. Dan selamat datang kembali bagi kalian yang sudah pernah membaca blog ini. Di tulisan kali ini Saya akan merangkum sedikit tentang kecerdasan emosional dari buku yang sedang Saya baca.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui emosinya dan mengatur emosi tersebut. Tidak hanya emosi dalam diri sendiri tetapi kecerdasan emosional juga berbicara mengenai kemampuan untuk memahami emosi orang lain.

Kecerdasan emosional memiliki pengaruh yang sangat penting bagi kesuksesan seseorang. Bahkan ada yang mengatakan jika kecerdasan emosional itu memiliki pengaruh yang dua kali lebih besar terhadap kesuksesan seseorang. 

Kalo menurut penulis sendiri, kecerdasan emosional sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual. karena emosi adalah hal yang membedakan manusia dari robot, hal yang membuat manusia bisa memanusiakan dan dimanusiakan. 

Karakter manusia yang berbeda-beda membuat kecerdasan emosional sangat dibutuhkan untuk bisa hidup dan bekerja secara produktif dengan orang lain. Karena itu, kunci dari kecerdasan emosional adalah empati. 

Empati merupakan kemampuan untuk mengetahui keadaan emosi atau perasaan orang lain. Dengan empati, seseorang bisa ikut merasakan atau setidaknya membayangkan apa yang sedang dirasakan oleh orang lain. Empati merupakan karakter yang mendasar bagi hubungan antar manusia. Seseorang akan mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain tanpa adanya empati. 

Empati dan kecerdasan emosional sangat penting bagi siapapun untuk bisa menjalin hubungan dan bekerja sama dengan orang lain terutama bagi orang yang berada pada level pimpinan. Kecerdasan emosional sering dideskripsikan pula sebagai "the art of leadership" karena kecerdasan tersebut adalah sesuatu yang bisa membuat seorang pemimpin terlihat authentic. Hal ini sangat diharapkan dari seorang pemimpin untuk bisa membangun kepercayaan dari anggotanya.

Jadi kecerdasan emosional bukan hanya baik untuk dimiliki, melainkan sangat diperlukan bagi manusia sebagai makhluk sosial untuk bisa hidup dan bekerja dengan manusia lainnya. Kecerdasan emosional dan empati sangat membantu kita untuk bergaul dengan orang lain di setiap konteks kehidupan, di dalam maupun di luar hal yang terkait pekerjaan.

Sumber, buku: How to Get On With Anyone - Catehrine Stothart